“MENIKAH” pun “PERLU ILMU”

#REPOST http://blog.proumedia.co.id | by: @salimafillah

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuhu…
Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin ALLOH akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan ALLOH Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32)

image21Dalam isyarat Nabi tentang nikah, ialah sunnah teranjur yang memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati. Maka nikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan dan persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekadar mau. “Ba`ah” adalah parameter kesiapannya. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekadar memperturutkan kemauan.

Persiapan nikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “ba`ah” dalam hadis itu adalah “kemampuan seksual”. Imam Asy-Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram, menambahkan makna “ba`ah” yakni: kemampuan memberi mahar dan nafkah. Mengompromikan “ba`ah” di makna utama (seksual) dan makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh.

Jika kesiapan nikah diukur dengan “ba`ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri yang tak pernah usai. Ia terus seumur hidup. Izinkan saya membagi persiapan nikah dalam 5 ranah: ruuhiyyah (spiritual), ‘ilmiyyah (pengetahuan), jasadiyyah (fisik), maaliyyah (finansial), ijtimaa’iyyah (sosial).

Persiapan nikah perlu start awal. Salim nikah usia 20 tahun, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 tahun, maka tak bisa disebut tergesa. Sebaliknya, ada orang yang nikahnya umur 30 tahun, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 tahun. Itu namanya tergesa-gesa.

Kita mulai dari yang pertama; persiapan ruuhiyyah. Ialah yang paling mendasar. Segala persiapan nikah lainnya berpijak pada yang satu ini. Persiapan ruuhiyyah (spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian dan tanggung jawab hidup yang lebih berlipat, berkelindan. Surat Ali Imran ayat 14: Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup. Begitu nikah berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi.

baca selengkapnya

Advertisements

Para Ilmuwan Ini Menjadi Muslim Setelah Melakukan Riset Ilmiah

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”. Demikian bunyi surah Ali Imron ayat 190-191

Ayat di atas menjelaskan tentang kebesaran Allah; bahwa keberadaan dan kebesaran-Nya dapat dibuktikan melalui adanya alam semesta. Orang-orang yang berakal (ulul Albab/cendekiawan) yang disebutkan dalam ayat itu dapat membuktikan keberadaan Allah melalui penelitian terhadap ciptaan-Nya. Sehingga tidak mengherankan, tidak sedikit manusia yang pada mulanya berada dalam kejahiliyahan, akhirnya memeluk Islam dan menjadi muslim yang teguh setelah menemukan kebenaran pernyataan Alquran tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Dalam Alquran sendiri, meski baru diturunkan 14 abad yang lalu, sudah banyak mengungkap fakta-fakta alam semesta secara ilmiah. Satu persatu fakta-fakta itu terbuktikan kebenarannya sehingga melahirkan beragam ilmu pengetahuan.

Pada abad modern ini, pembuktian kebenaran Alquran banyak dilakukan oleh ilmuwan non-muslim. Bahkan tidak sedikit di antara mereka akhirnya yang dengan keikhlasan mengucap dua kalimat syahadat.

Ada banyak ilmuwan dunia yang akhirnya mengakui kebenaran Alquran setelah melakukan penelitian di bidangnya. Berikut 5 ilmuwan di antaranya yang dihimpun detikRamadan dari berbagai sumber, Kamis (16/8/2012).
baca selengkapnya